Woensdag 08 Mei 2013

BUDIDAYA KELAPA



PENDAHULUAN
            Menurunnya minat petani untuk membudidayakan komoditi kelapa sebenarnya merugikan secara nasional, karena tanaman kelapa mempunyai kesesuaian syarat tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya memberikan pedoman teknis budidaya kelapa dengan aspek K- 3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian lingkungan , sehingga mampu meningkatkan taraf penghasilan petani.

SYARAT PERTUMBUHAN
·         Tanah yang ideal untuk penanaman kelapa adalah tanah berpasir , berabu gunung, dan tanah berliat. dengan pH tanah 5,2 hingga 8 dan mempunyai struktur remah sehingga perakaran dapat berkembang dengan baik.
·         Sinar matahari banyak minimal 120 jam perbulan , jika kurang dari itu produksi buah akan rendah.
·         Suhu yang paling cocok adalah 27ºC dengan variasi rata-rata 5-7 º C, suhu kurang dari 20º C tanaman kurang produktif.
·         Curah hujan yang baik 1300-2300 mm/th. Kekeringan panjang menyebabkan produksi berkurang 50% , sedangkan kelembapan tinggi menyebabkan serangan penyakit jamur.
·         Angin yang terlalu kencang terkadang merugikan tanaman yang terlalu tinggi terutama varietas dalam.
PENGOLAHAN LAHAN
Pengolahan tanah yang diperlukan adalah pembuatan lobang tanam dengan ukuran 0,9m x 0,9m x 0,9m dengan penambahan pupuk kandang dan humus. Jarak tanam yang baik untuk jenis dalam yaitu 9 x 10 m dan jenis genjah 6 x 6 m.

PEMBIBITAN
·         Pilih buah yang bagus dan tua, rendam dengan larutan air + HORMONIKdengan dosis 1 tutup per l0 liter air selama 2 minggu, kemudian semaikan bibit di bedengan dan kedalaman sama dengan buah kelapa , timbun buah kelapa dengan letak horizontal dengan tebal timbunan 2/3 buah. Jarak antar bibit 25cm x 25 cm dan bibit akan berkecambah setelah 12-16 minggu, jika lebih dari 5 bulan tidak berkecambah dianggap mati/ bibit jelek. Rawat bibit di bedengan hingga umur 30 minggu atau berdaun 3 lembar. Lakukan penyiraman bila tanah kurang air.
·         Bibit dipelihara dengan pemberian pupuk POC NASA hingga umur bibit kurang lebih 9 bulan dengan dosis 1-2 cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali. Jangan mengabaikan tindakan preventif perlindungan tanaman dari gangguan ternak atau dengan memasang pagar kayu.

Lakukan pemupukan sesuai dengan rekomendasi atau dengan mengacu pada tabel pemupukan berikut :
Umur Bibit (bulan)
Kebutuhan Pupuk (gr/tanman)
N (Urea/ZA)
P (TSP)
K (KCl/MOP)
Mg (Kies)
1
5/10
50
75
100
2
5/10
75
125
150
3
5/10
100
150
200
4
10/15
200
400
400
5
10/15
300
600
500
6
10/15
400
800
750
7
15/20
500
1000
1000
8
15/20
600
1250
2000
9
15/20
700
1500
2500

Pospat diberikan 2 minggu sebelum pupuk lain dan dicampur rata dengan tanah

Catatan :
Akan lebih baik pembibitan diselingi / ditambah 
SUPERNASA 1-2 kali selang waktu 3-4 bulan sekali dengan dosis 1 botol untuk ± 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap bibit.




PENANAMAN
Umur Tanaman
Dosis Pupuk (gr/pokok)
Urea
(TSP)
RP
KCl
Kies
Borak
Saat tanam
-
-
-
-
-
-
1 bln setelah tanam
100
100
100
100
100
100
2 tahun
- apl I
200
200
200
200
200
200
- apl II
200
200
200
200
200
200
3 tahun
- apl I
350
350
350
350
350
350
- apl II
350
350
350
350
350
350
4 tahun
- apl I
500
500
500
500
500
500
- apl II
500
500
500
500
500
500
5 tahun
- apl I
500
500
500
500
500
500
- apl II
500
500
500
500
500
500



Catatan :
·         Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret - April).
·         Kocorkan atau siram SUPERNASA dosis 1 sendok makan per 10 lt air per pohon setiap 3-6 bulan sekali.
·         Penyemprotan POC NASA 3 - 4 tutup + HORMONIK 1-2 tutup per tangki setiap 2-4 minggu sekali.
Tambahan:
Untuk tanaman yang sudah produksi atau berbuah gunakan 
POWER NUTRITION guna meningkatkan pembuahan. Pupuk organik POWER NUTRITION adalah pupuk yang diformulasikan secara khusus untuk merangsang pertumbuhan bunga dan meningkatkan pembuahan agar lebih optimal. POWER NUTRITION dibuat dari berbagai bahan organik alami yang diproses secara khusus dengan kandungan unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk meningkatkan produksi buah.
Cara pemakaian adalah : 3 sendok makan POWER NUTRITION dilarutkan ke dalam air di campurkan 1/2 tutup AERO 810 untuk membantu peresapan nutrisi pada akar. Selanjutnya siramkan di sekeliling perakaran tanaman. Lakukan pemupukan ini setiap 3 bulan sekali untuk hasil optimal. 
PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT 
1. Golongan Coleoptera
Hama golongan ini yang paling banyak menyerang adalah Oryctes rhinoceros . Cara mengendalikan dengan membuat trap/ jebakan berupa kotak-kotak yang diisi sampah dan secara preventif dikendalikan dengan pemberian 
Natural BVR atau jika sudah menjadi uret dengan PESTONA, atau dengan menggunakan musuh alaminya yaitu tikus, tupai, ayam , bebek , dan burung hantu.

2. Golongan Lepidoptera
Species yang sering menyerang adalah Tiratabha rufivena yang larvarnya memakan bunga kelapa, dan Acritocera negligens yang mengebor tangkai bunga yang belum membuka dan memakan isinya. Pengendaliannya dengan menggunakan 
PENTANA +AERO 810 ataupun Natural BVR sifatnya yang cepat berpindah maka pengendaliannya harus secara merata untuk pencegahan .

3. Golongan Hemiptera
Jenis yang menghisap cairan daun sehingga daun mati adalah jenis homoptera (Gareng pong= Jawa). Jenis lain yang menghisap cairan buah adalah Heteroptera, sehingga buah menjadi rontok sebelum matang. Pencegahan dengan 
PENTANA +AERO 810 dan PESTONA secara bergantian.

4. Penyakit yang juga mungkin menyerang adalah:
Busuk tunas atau pucuk yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora dan penyakit Lingkar merah pada daun yang disebabkan cacing / belut tanah Rhadinaphelencus cocophilus. Kedua macam penyakit ini hanya dengan eradikasi atau pemusnahan tanaman yang terkena serangan.

PEMANENAN
·         Untuk kelapa jenis dalam, umur berbuah setelah 8-10 tahun, dan umur bisa mencapai 60 - 100 tahun dengan produksi yang diharapkan adalah kopra. Untuk kelapa jenis genjah berbuah setelah umur 3 - 4 tahun dan berbuah maksimal pada saat umur 9 - 10 tahun, dan bisa mencapai umur 30 - 40 tahun kurang bagus untuk kopra karena daging buahnya yang lunak.
·         Panen buah kelapa dilakukan menurut kebutuhannya. Jika kelapa yang diinginkan dalam keadaan kelapa masih muda kira-kira umur buah 7 -8 bulan dari bunganya. Jika ingin mengambil buah tua untuk santan atau kopra dipanen di saat umur sudah mencapai 12-14 bulan dari berbunga atau jika sudah tidak lagi terdengar suara air di dalam buahnya.
PASCA PENEN
Pengolahan buah kelapa yang tua pada akhir-akhir ini mulai mengarah pada pemanfaatan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil yang mampu meningkatkan nilai jual dari produk kelapa, ataupun masih dalam bentuk nira ( legen =Jawa) untuk keperluan industri gula kelapa, nata de coco, asam cuka, produk minuman dan substrat,serta alkohol yang juga mampu meningkatkan nilai jual dari produk kelapa.

Gula kelapa :
kandungan sukrosa yang dominan di antara kandungan bahan kimia non air lainnya menjadikan nira sebagai sumber gula yang sangat potensil.

Nata de coco :
Adalah bahan olahan nira kelapa berbentuk gel, tekstur kenyal seperti kolang kaling, yang proses fermentasinya dibantu oleh mikrorganisme Acetobacter xylium.

Asam cuka :
dikenal sebagai penegas rasa, warna dan juga sebagai bahan pengawet karena membatasi pertumbuhan bakteri.


Produk minuman:
Dapat dibuat minuman segar non alcohol maupun alkohol dalam kadar rendah (tuak) ataupun dalam kadar tinggi (arak).

Substrat :
Yaitu bahan nutrient yang dipergunakan untuk menumbuhkan mikroba. Substrat ini sangat diperlukan bagi pekerjaan di lab bioteknologi.
HARGA MINYAK KELAPA
Tanggal
Spot Price
Bitung Rp/Kg
1-mo Forward
Rotterdam US$/ton
18-1-13
11,000
910.00
17-1-13
11,000
910.00
16-1-13
11,000
910.00
15-1-13
11,000
910.00
*Sumber Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara
dan APCC (Asia Pacific Coconut Community)
50, 8 TON TEPUNG KELAPA SULUT DIEKSPOR KE SELANDIA BARU
Pada pertengahan bulan Juni 2012, salah satu komoditi unggulan Propinsi Sulawesi Utara (Sulut), yakni tepung kelapa diekspor ke Selandia Baru. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Drs. Sanny Parengkuan MAP mengatakan, di pekan kedua Juni 2012 ini, Sulut mengekspor tepung kelapa ke Selandia Baru sebanyak 50,8 ton. “Transaksi ini mampu menciptakan devisa bagi daerah Nyiur Melambai sebanyak USD95,256,” ujar Sanny.
Sanny mengatakan Selandia Baru rutin membeli tepung kelapa asal Sulut untuk dijadikan bahan pangan masyarakat di sana. “Tepung kelapa Sulut sangat digemari oleh masyarakat Selandia Baru karena mutu yang baik,” tutur Sanny.
Sanny menambahkan, tepung kelapa merupakan komoditi turunan dari kelapa yang sangat diminati negara-negara bagian Eropa, Amerika juga Asia dan Afrika. “Kedepan, Disperindag akan terus memfasilitasi eksportir yang ada di Sulut dengan mencari pasar baru bagi komoditi Sulut,” tukas Sanny seraya menambahkan, untuk kepengurusan Surat Keterangan Asal (SKA) di Disperindag Sulut tidak dipungut biaya apapun.
Sebagai negara kepulauan dan berada di daerah tropis dan kondisi agroklimat yang mendukung, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa yang utama di dunia. Pada tahun 2000, luas areal tanaman kelapa di Indonesia mencapai 3,76 juta Ha, dengan total produksi diperkirakan sebanyak 14 milyar butir kelapa, yang sebagian besar (95 persen) merupakan perkebunan rakyat. Kelapa mempunyai nilai dan peran yang penting baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun sosial budaya.

 


Mamuju (ANTARA Sulsel) - Kabupaten Polewali Mandar (Polman) salah satu daerah penghasil Kelapa Dalam di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) dengan total produksi per tahun mencapai 13.590 ton dengan luas areal lahan sebanyak 22.432 Ha.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Mukhtar Belo di Mamuju, Minggu.

Menurut dia, tingkat produksi kelapa dalam di Kabupaten Polman saat ini cukup besar dan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat yang ada di wilayah itu.

Secara Geografis kabupaten Polman yang berada di daerah pesisir pantai menjadi daya dukung peningkatan produksi kelapa dalam dengan capaian produksi per tahun, ujar dia.

"Tanaman perkebunan kelapa dalam adalah tanaman multi fungsi yang bisa menopang kebutuhan masyarakat yang ada di wilayah pesisir," ujar dia.

Sementara itu, kata dia, penghasil kelapa dalam terbesar kedua di Sulawesi Barat adalah Majene dengan total produksi mencapai 10.027 ton per tahun dengan luas lahan sebanyak 8.928 Ha.

Kemudian di tempat ketiga penghasil kelapa dalam ada di wilayah kabupaten Mamuju Utara dengan total produksi mencapai 8.159 ton per tahun dengan luas areal lahan sebanyak 21.180 Ha.

Untuk ibukota Mamuju, kata dia, produksi kelapa dalam hanya berkisar 7.376 ton per tahun dengan luas sebanyak 22.432 Ha, dan yang terendah adalah Kabupaten Mamasa yang hanya mencapai total produksi sebanyak 7,7 ton per tahun dengan luas areal hanya sekitar 30 Ha.

"Total produksi di Sulbar untuk kelapa dalam hingga akhir tahun 2008 silam telah mencapai 39.160 ton per tahun dengan total areal perkebunan 588,19 Ha," tukas dia.

Tanaman kelapa dalam merupakan komoditi tradisional yang tumbuh dengan baik pada semua tempat yang diusahakan oleh masyarakat sebagai tanaman perkarangan maupun yang diusahakan dalam hamparan yang cukup luas. 
Pada tahun 2010 jumlah unit usaha industri kecil menurun dibanding tahun sebelumnya tinggal 12.065 unit, namun nilai produksi meningkat hingga 399,49 milyar rupiah dan dalam penyerapan tenaga kerja juga lebih banyak dari pada tahun sebelumnya, pada tahun ini menyerap tenaga kerja sbanyak 36.719 orang.
Dari jumlah industri kecil tersebut, hampir separonya merupakan industri gula kelapa. Daerah potensi produksi gula kelapa yaitu Kecamatan Nglegok, yaitu terdapat 50,3 persen dari total industri gula kelapa di Kabupaten Blitar.
Jenis industri yang didirikan akan berpangaruh erat terhadap besarnya nilai investasi yang ditanam. Jumlah investasi industri kecil di Kabupaten Blitar yaitu sebesar 73,1 milyar rupiah yang terbagi menjadi 53,8 milyar rupiah untuk kelompok industri kecil formal dan 19,3 milyar rupiah untuk kelompok industri kecil non formal.
Kelompok industri hasil pertanian dan kehutanan menempati urutan pertama dalam penanaman investasi yaitu sebesar 51,8 milyar rupiah disusul kelompok industri aneka sebesar 15,3 milyar rupiah dan berikutnya kelompok industri logam, mesin dan kimia sebesar 6 milyar rupiah.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking